Dunia kampus telah mengalami perkembangan yang sangat cepat dan revolusioner di bidang teknologi. Berbagai tools, aplikasi, dan website bisa membantu menyelesaikan tugas mahasiswa namun bisa juga menjadi petaka bagi mahasiswa yang seringkali tidak disadari.
Pada tulisan ini kami akan mereview kehadiran aplikasi Zerogpt yang pada awal dirilisnya sangat dipuja puji banyak akademisi. Namun justru tim Mastahtugas melihatnya kehadiran situs pengecekan generate AI Zerogpt seringkali menjadi petaka bagi dunia kampus tersendiri.
Karena dibalik dampak positifnya yang cukup membantu dosen untuk mengecek tulisan tugas mahasiswa apakah dibuat dengan bantuan AI apa tidak tapi ternyata seringkali hasil pengecekan AI ini tidak akurat. Pada tulisan ini kami akan menuliskan dampak negatifnya dulu.
Adapun dampak dari kehadiran situs Zerogpt kami lampirkan dalam tangkapan layar sebagai berikut:

Pada tangkapan layar di halaman Facebook tersebut ada keluhan user Facebook bernama Yanto Purwanto yang mengeluhkan bahwa tulisanya terdeteksi GPT AI sebanyak 57,07 persen padahal ia mengaku bahwa tulisanya asli dibuat sendiri seratus persen dibuat sendiri tanpa bantuan AI sama sekali. Namun sayangnya sistem deteksi AI Zerogpt malah memberikan hasil pengecekan generate AI dengan kadar mencapai 57,07 persen. Ini sih termasuk angka yang cukup tinggi.
Dampak negatifnya yaitu Dosen bisa saja memeberikan nilai E pada mahasiswa yang ketika makalahnya dicek terdeteksi AI padahal mahasiswa tersebut asli mengetik manual dari nol. Hal ini akan membuat mahasiswa frustasi.
Kasus ini tidak hanya terjadi pada Yanto Purwanto, tapi juga terjadi pada orang lain juga mengalami kasus yang sama. Saya lampirkan gambar di bawah ini dimana ada mahasiswa lainya yang mengalami kendala yang sama

Dari dua kasus tersebut, maka dapat disimpulkan jika website deteksi penulisan AI seperti Zerogpt ini tidaklah akurat seratus persen.
Table of Contents
ToggleZerogpt Dapat Cuan Dari Layanan Humanize AI
Kendatipun kehadiran Zerogpt dipersepsikan membantu dosen untuk mendeteksi tugas mahasiswa yang terdeteksi penulisanya menggunakan AI. Namun mereka sebenarnya ada motif bisnis yang membuat Zerogpt diam-diam dapat cuan yang tidak kita pahami di mata orang awam.
Dari mana dapat cuanya Zerogpt? Mereka dapat cuan tentu saja dari tawaran humanize ai yang mereka tawarkan. Jadi sistem kerjanya yaitu tools Zerogpt membuat seolah olah tulisan mahasiswa yang dibuat secara manual sengaja dibuat terdeteksi AI dengan kadar 50 persen. Sedangkan aturan kampus biasanya berkisar antara 20-30 persen.
Karena angka 50 persen masih cukup tinggi, maka di website mereka menawarkan tools humanize ai writing yang dapat membuat tulisan makalah mahasiswa dapat mencapai kadar detector ai menjadi 20 persen saja dengan syarat mahasiswa bayar bypass tulisan AI ke Zerogpt.
Dari kasus di atas, maka saya minta dosen jangan mempercayakan pengecekan tulisan AI ke Zerogpt karena akurasi pengecekanya tidaklah akurat. Dosen perlu menggunakan insting alami analisisnya untuk membedakan mana tulisan manusia dan mana tulisan robot. Untuk tulisan yang robot biasanya terlalu rapi sedangkan pada tulisan manusia konjungsi antar kalimat biasanya tidak konsiten.
Bahaya Dari Website Detector AI
Dulu kami sempat mengkritik Turnitin karena bisa membatasi kreativitas pikiran manusia, kali ini kami juga kritik Zerogpt dan penyedia cek AI lainya. Adapun bahayanya yaitu sebagai berikut:
- Kualitas tulisan mahasiswa menjadi semakin tidak rapi karena untuk bypass detector AI Zerogpt seringkali tulisan mahasiswa harus sengaja dibuat berantakan struktur SPOK Bahasa Indonesia, sengaja dimasukan double typo, typo Sebagian huruf hilang, tanda bacanya sengaja dibuat salah demi untuk menghindari deteksi AI Zerogpt. Jika kampus terlalu mengandalkan dan percaya aplikasi deteksi AI, kami khawatir skripsi dan makalah yang akan datang akan ditemukan banyak tulisan typo seperti era ketika banyak mahasiswa yang nulis sengaja typo untuk bypass deteksi plagiasi Turnitin.
- Membatasi Pikiran Liar Mahasiswa
Pikiran liar mahasiswa justru adalah keunggulan yang harus ada. Kampus justru jangan menjadi pabrik yang menyeregamkan pikiran mahasiswa dengan tools control pengecekan AI. Kalau semua tulisan harus 0 persen deteksi AI, maka pikiran mahasiswa harus mau diseragamkan dengan tools tersebut. Ini tentu saja menjadi kekacuan produksi Novelty yang harusnya ada dalam Lembaga kampus.
Nah itulah dampak positif dan negatif kehadiran tools AI detector yang perlu kita pahami. Intinya menggunakan tools tersebut tidak masalah, tapi jangan 100 persen percaya dengan tools tersebut karena cenderung dampak negatifnya cukup banyak.
Jika Anda sebagai mahasiswa kini punya tugas makalah milik sendiri yang terdeteksi AI detector padahal tulisanya murni hasil ketik manual sendiri dari pemikiran sendiri, Anda bisa minta bantuan kami dengan pesan melalui laman listing jasa menurunkan deteksi AI. Kami bisa melakukan bypass ai detector dengan tulisan yang tetap rapi, manusiawi, dan tanpa ada kesengajaan untuk dibuat typo. Silahkan order saja.